Kekasih Bayangan
Terhitung sudah
tiga hari ini Ria menganggap obrolan Winta dan Diana jadi amat membosankan.
Tampaknya mereka sudah tidak peduli lagi apakah Ria menyukai obrolan itu atau
tidak karena tiap kali obrolan mereka tampaknya makin seru.
"Benar lho, Na. Dion kemarin mulai sering curi-curi pandang ke arah gue.
Bukannya ge-er. Dua kali gue nangkep basah," kata Winta sambil menelan
cendol hijau kesukaannya.
"Itu berarti udah deket lagi ama jadian. Kayak waktu gue dengan Restu
tempo hari. Nggak lama setelah dia suka curi pandang, mulai deh dia ngajak
nonton. Mana film India lagi. Tahu kan gue paling suka film India. Udah
karcisnya murah, filmnya panjang," timpal Diana. Tangannya membetulkan
letak kacamatanya.
"Ah, itu sih otak elo aja yang nggak mau rugi!" sahut Winta. Ia
kemudian melirik Ria yang cuma mengaduk-aduk siomai di depannya. "Elo
sendiri gimana? Gacoan elo udah dapat?"
Ria cuma tersenyum kecil matanya menerawang lalu mengedip-ngedip membuat Diana
dan Winta penasaran. "Pokoknya seru dan mengesankan," mulut Ria
terbuka. Ia sendiri tidak tahu bagaimana tiba-tiba bisa mengatakan kalimat itu.
"Seru gimana?" tanya Winta yang tak menyangka Ria akan memberi respon
lantaran sejak tadi cuma bengong.
Mulut Ria tak segera terbuka. Dipandanginya Winta dan Diana bergantian.
"Begini.... Mmm, kemarin gue kan ke toko buku beli diari buat kado ultah
Nenek gue. Nah, pas pulangnya di bis ada cowok cakep. Ya, akhirnya kita kenalan
deh."
"Pasti elo duluan yang ngajak kenalan," tuding Diana.
"Yee, kok nuduh. Yang jelas mulanya karena waktu itu gue mau bayar bis,
tapi nggak punya receh. Uang gue limapuluh ribuan semua. Untung cowok di
sebelah gue itu ngerti dan mau bayarin gue."
"Namanya siapa?" tanya Winta dan Diana nyaris berbarengan.
"Namanya.... Mmm Roy. Ya, Roy. Perhatikan, dari namanya aja dia bakalan
cocok jadi cowok gue. Ria dan Roy. Cocok, kan?" Mata Ria berbinar. Dia
memuji dirinya sendiri dalam hati karena kali ini bisa membuat dua sahabatnya
takjub. Soal apakah dusta itu akan terbongkar, itu urusan nanti.
Bel istirahat usai berbunyi. Tiga sahabat itu bergegas menuju kelas setelah
membayar apa yang mereka makan dan minum selama di kantin. Di sela-sela waktu
belajar, pikiran Ria menerawang memikirkan rencana obrolan soal cowok
gacoannya. Ya, tidaknya dia tak perlu duduk menjadi pendengar setia saat di
antara sahabatnya.
Pulang sekolah Ria tidak bisa pulang bareng dengan dua sahabatnya. Diana pulang
dengan cowok barunya, Restu. Meski Restu menawarinya untuk satu mobil, tapi Ria
menolak. Apa enaknya jadi kambing congek di antara sepasang kekasih. Sementara
itu Winta masih harus rapat OSIS. Tentu aja cewek itu semangat karena di
sanalah dia bisa saling curi-curi pandang dengan Dion.
Ria melangkah malas ke halte terdekat. Jam pulang sekolah begini butuh
perjuangan untuk mendapatkan tempat duduk fi atas bis. Makanya Ria sengaja
memilih bis patas AC, meski mahal asal sampai. Begitu bis yang ditunggunya
datang, Ria segera naik dan mencari tempat duduk di bagian belakang, biar
gampang turun.
"Hei, ketemu lagi kita! Baru pulang?"
Ria terkejut mendengar sapaan di sebelahnya karena ia baru saja duduk. Seorang
cowok cakep menatapnya sambil tersenyum. Ria mencoba mengingat-ingat sosok di
sebelahnya. Siapa?
"Lupa, ya? kemarin sore kita kan baru kenalan di bis. Namamu Ria, dan aku
Roy. Kita kenalan gara-gara kamu nggak punya uang receh untuk bayar bis
kemarin. Ingat?"
Ria menggeser duduknya sedikit menjauh. Roy? Kemarin?
Ah, mana mungkin! Aku kan cuma berbohong mengatakan hal itu kepada Winta dan
Diana pagi tadi. Lalu siapa orang ini sebenarnya? Ria kelimpungan.
"Terserah kamu kalo memang nggak mau kenal lagi denganku. Cuma kamu perlu
tahu, aku nggak bisa tidur semalaman. Habis kamu nggak ngasih tahu nomor HP.
Untung Tuhan kasihan sama aku. Nggak nyangka bisa ketemu kamu pulang sekolah
begini," Roy terus nyerocos.
Ria masih berpikir. Aku nggak bisa diam terus, putusnya dalam hati. "Maaf,
kalau boleh tahu, kamu sendiri masih sekolah, kuliah atau...."
"Menurut kamu apa? Yang jelas aku sudah tamat SMA. Apa kamu keberatan
kalau punya pacar bukan anak SMA?"
"Pacar? Kok ngelantur, sih?"
"Lho, kamu kan kemarin bilang belum punya pacar. Apa aku kurang ganteng
untuk ukuranmu?"
Ria melirik wajah Roy. Matanya begitu mirip Ethan Hawke. Sama persis dengan
cowok yang diidolakan Ria selama ini. Pantas saja Ria tadi merasa pernah
melihat Roy. Setidaknya, Ria memang pernah membayangkan punya pacar yang
bertampang macam itu.
"Ria dan Roy. Aku rasa itu nama pasangan yang cocok, kan?" kata Roy
lagi.
Ria mengerutkan dahinya. Kalimat itu sempat diungkapkannya kepada Diana dan
Winta tadi pagi. Ia menghela napas sebentar. Semua ini tidak mungkin dipikirkan.
Jalani aja... jalani aja, bisiknya dalam hati.
"Rumahmu masih jauh?" Roy menyentak Ria.
"Masih dua halte lagi," jawab Ria setelah melihat keluar jendela.
"Nanti ganti naik mikrolet. Sampailah."
"Boleh aku tahu rumah kamu?"
Ria buru-buru menggeleng. "Kapan-kapan aja. Jangan sekarang,"
lanjutnya. Dia ngeri membayangkan tampang Neneknya kalau sampai melihat ada
cowok yang mengantarnya. Masih menempel di benaknya ketika Shasa, kakaknya,
dulu waktu SMA pernah diceramahi habis-habisan gara-gara membawa teman cowok ke
rumah. Itulah yang sampai kini membuat Ria ragu untuk pacaran.
***
Sebenarnya Ria
ingin mengatakan kejadian menakjubkan yang dialaminya saat ngobrol di kantin
seperti biasanya. Tapi niat itu diurungkannya karena yakin dua sahabatnya malah
tidak akan pernah mempercayainya lagi nanti. Lagipula, Ria sudah bisa menikmati
obrolan soal cowok.
Winta
berceloteh tentang Dion yang mulai berani mengantarnya pulang kemarin. Diana
memaparkan sifat romantis Restu saat mengajaknya nonton film India terbaru yang
dibintangi Shahrukh Khan dan Preity Zinta. Ria tentu aja ngak mau kalah,
menceritakan hal yang dialaminya kemarin ditambah sedikit bumbu biar seru.
"Jadi dia anak orang kaya? Ah, masak orang kaya bisa dua kali ketemu lagi
naik bis," timpal Winta usai Ria berceloteh.
"Mobilnya lagi ngadat. Nanti dia rencananya mau ngejemput sepulang
sekolah. Sekalian ngajak makan-makan," bohong Ria kian kumat.
"Kalo begitu, gue nggak langsung pulang ah nanti. Penasaran pengen lihat
gacoan elo itu," kata Winta.
"Gue juga. Kenalin ya!"
Ria
gelagapan menanggapinya. Sedetik kemudian terdengar kalimat melengking di
belakangnya. Mieke dengan gaya yang centil mendekati tiga sahabat itu sambil
membagi-bagi undangan berbentuk dadu.
"Jangan lupa datang hari Sabtu nanti. Syaratnya cuma bawa pasangan. Yang
nggak punya pacar, boleh bawa adik atau kakak, asal jangan bawa kambing!"
kata Mieke sebelum meninggalkan meja di sudut kantin itu.
Mereka bertiga buru-buru membaca undangan itu. Diana langsung tersenyum karena
ia yakin kalo Restu akan mau diajaknya ke pesta, sementara Winta hanya
komat-kamit berharap agar Dion nanti akan menawarkan diri menjadi pasangannya,
sedangkan Ria masih bingung.
"Elo bakal ngajak si Roy, kan?" tanya Diana. Benaknya sudah
membayangkan betapa serunya acara kencan bersama itu nanti.
"Entahlah. Aku nggak tahu dia suka pesta atau nggak."
"Ya, tinggal kamu tanya aja nanti. Uh, rasanya gue nggak sabar menunggu
bel pulang. Gimana sih tampang Roy-mu itu!" kata Winta sambil menyuapkan
siomai ke mulutnya.
Ria cuma meringis. Ia malah berharap waktu berjalan lambat agar bisa berpikir
alasan apa yang dilontarkannya nanti karena sebenarnya Roy memang tidak akan
pernah datang. Namun waktu malah berjalan semakin cepat. Dan sewaktu bel pulang
berbunyi dada Ria berdetak kian keras. Apalagi Winta dan Diana terus
menguntitnya. Sepuluh menit pertama Diana dan Winta masih berharap cemas
mendampingi Ria di pintu gerbang, sepuluh menit berikutnya perut mereka
keroncongan dan mulai memaki Ria.
"Coba elo telepon dong ke
HP-nya."
"Udah barusan. Tapi nggak aktif."
Sepuluh
menit kemudian Winta dan Diana meninggalkan Ria karena sudah tak tahan ingin
pulang. Cuma Ria yang tinggal karena dia harus pura-pura tetap menunggu Roy.
Dan tiga menit kemudian, sebuah Corona putih tepat di depan Ria.
"Roy!"
Ria memekik kaget ketika melihat sosok yang keluar dari dalam mobil. Dia
menengok kanan-kiri, siapa tahu Winta dan Diana masih ada. Dengan demikian dua
sahabatnya bisa segera tahu bahwa ia kini benar-benar sudah punya gacoan.
"Kupikir aku terlambat
menjemputmu," kata Roy sambil mendekati Ria.
"Menjemputku?"
"Kamu kemarin kan memperbolehkan aku jemput kamu sekarang. Dan jangan
bilang, kamu juga lupa bahwa siang ini aku janji mentraktirmu makan!"
"Nggak, aku ingat itu!" timpal Ria meski bingung. Semuanya harus
kujalani, apa adanya! Tekan Ria. Dia segera masuk ke dalam mobil, duduk di sisi
Roy.
Ria merasakan saat yang
membahagiakan. Inikah yang namanya musim semi? Pantas Diana dan Winta selalu
bersemangat tiap hari. Seandainya saja Nenek membolehkanku, Ria membatin.
Saat makan di sebuah restoran Jepang, Ria mengatakan pada Roy soal undangan
pesta ulangtahun Mieke. "Aku sendiri sebenarnya nggak begitu suka pesta.
Tapi dua sahabatku minta supaya aku datang. Bagaimana menurutmu, Roy?"
"Yang namanya diundang, ya
harus datang. Aku nggak keberatan menemani kamu. Berapa hari lagi sih? Oh, lima
hari lagi? Kok ngundangnya mepet begini?"
"Sebenarnya undangan lisannya udah dari dua minggu lalu. Oh, iya makasih
kalo emang kamu mau nganter aku. Tapi aku...." Ria teringat bayangan
Neneknya.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa." Ria menengok arlojinya. "Sudah kelamaan nih.
Pulang yuk."
Roy mengangguk. Dia mengantar Ria. Tapi Ria menolak Roy mengantar sampai depan
rumah. Dia meminta Roy menghentikan mobilnya beberapa rumah sebelumnya. Untung
Roy tidak tersinggung dan mau mengerti.
Ria menemukan Neneknya di teras rumah. Dia merasa beruntung karena tadi Roy
tidak mengantarnya sampai depan rumah. Ria mendekati Nenek, dan memberi kecupan.
Tawa kecil Nenek membuat Ria heran.
"Mengapa nggak kamu suruh temanmu mampir dulu?"
"Ah, Nenek. Ria kan naik bis."
"Jangan bohong. Seragammu bersih dan nggak tercium bau rokok serta
keringat seperti biasanya. Mukamu cerah dan langkahmu seperti orang yang habis
makan kenyang. Begitu, kan?"
Ria tersipu. Susah memang berbohong pada Neneknya, sekecil apapun.
"Dia pacarmu?"
"Nenek bukannya nggak suka kalo Ria pacaran?"
"Kapan Nenek melarang? Belum pernah."
"Secara langsug memang belum. Tapi Ria masih ingat waktu dulu Nenek
marahin pacar Mbak Shasa, padahal Mbak Shasa udah gede."
Nenek tersenyum memamerkan kempot pipinya. "Jadi karena itu kamu takut
pacaran? Waktu itu Nenek marah sama Shasa bukan karena dia pacaran, bukan pula
karena udah gede atau belum. Tapi apa pantas Shasa pergi dengan seorang cowok
sampai larut malam dan tanpa pamit? Pantas nggak?"
Ria menggeleng. Matanya baru terbuka kalau selama ini sebenarnya neneknya tidak
melarang ia pacaran. Yang penting asal tahu batas dan aturan!
***
Tidak ada berita
yang paling menggembirakan bagi Winta dan Diana ketika Ria menyampaikan bahwa
ia akan pergi bersama Roy ke pesta Mieke. Berarti tiga sahabat itu bisa
bepergian bareng tanpa mengorbankan perasaan satu orang pun.
"Jadi Roy
tuh kemaren telat jemput elo? Ih, gara-gara Winta nggak sabaran sih."
"Yeee, kok gue sih yang disalahin."
"Roy ada rencana jemput elo lagi nggak sih?"
Ria menggeleng. Takut kejadian kemaren terulang lagi. "Lagian gengsi
banget minta dijemput mulu," kilah Ria walau sebearnya dia berharap lain.
Ya, pulang sekolah Ria sengaja naik patas AC lagi. Siapa tau bisa ketemu dia lagi, harapnya. Pikirannya menerawang,
mengingat Roy. Baru dua kali ketemu Ria merasa ada yang lain di hatinya. Aih,
cepat banget sih?
Mudah-mudahan nanti dia nelepon, harapnya. Ria menyesal HP-nya rusak karea
kerendam cucian tadi pagi.
Waktu berlalu
cepat ketika Ria mengharapkan keajaiban muncul. Tapi tidak ada telepon dari Roy
maupun kemunculan surpraisnya. Ria mendadak merasa dadanya terhimpit. Sementara
wajah Roy makin melekat di benaknya.
Roy-Roy-Roy.... Kamu di mana sih?
***
Penyakit memang
tidak pernah diundang datangnya. Pagi setelah hari yang dilalui Ria. Tanpa Roy,
Ria terbaring sakit. Entah apa sebabnya. Malah sampai tiga hari kemudian Ria
masih terbaring sakit. Seperti biasa Diana dan Winta kembali menjenguk Ria di
siang hari. Sekalian mengabarkan, sebagai tanda solidaritas mereka akan
membatalkan rencana ke pesta ulangtahun Mieke nanti malam.
"Gue nggak
mungkin ke pesta itu sementara elo terbaring sakit seperti ini," papar
Winta.
"Jangan bodoh. Gacoan kalian pasti nggak suka ini. Mereka akan menyumpahi
penyakit gue tambah parah."
Winta memandang Diana. "Hal ini juga sekalian menunjukkan rasa penyesalan
gue karena selama ini nggak mengerti perasaan elo," timpal Diana.
"Apa
maksud kalian?" tanya Ria. Kepalanya yang pusing semakin bingung.
"Tentang Dion dan Restu. Mestinya kami tahu diri nggak cerita tentang
mereka di depan elo. Hingga akhirnya elo harus berbohong."
"Win, sederhanain kalimat elo!"
Winta menghela napas. "Ayolah, Ria, elo harus jujur bahwa elo nggak suka
kalo gue sama Diana bicara soal cowok-cowok itu karena elo nggak punya seorang
cowok yang harus elo bicarain. Lalu elo ngarang tentang Roy untuk menutupi
kejengkelan elo itu."
"Pada mulanya memang gue berbohong, kemudian dia muncul, Roy memang
ada."
"Tapi mana dia? Emang elo pernah bisa menghadirkannya di depan gue berdua?
Bahkan sudah tiga hari elo terbaring sakit, dia nggak muncul-muncul?"
desak Winta disusul Diana. Mereka yakin betul, penyakit yang dialami Ria pun
gara-gara tekanan tidak punya pasangan untuk ke pesta ulangtahun Mieke.
Ria menggigit
bibirnya. Pertanyaan itu juga muncul di benaknya. Mengapa Roy
nggak datang-datang juga? Semakin dipikir
kian membuat dirinya tak berdaya. Ria menggamit tangan Winta. Isaknya terdengar
pelan. "Mungkin dia sedang ke luar negeri ya, Win," katanya menghibur
diri, sekaligus menjaga agar tangisnya nggak jatuh.
Diana mengelus rambut Ria. Sejak semula dia sudah menduga cerita Ria tentang
Roy cuma isapan jempol belaka. Tapi ia tak mau menggubris. Cuma kalau jadinya
Ria seperti ini, tentu saja sebagai sahabat dia tidak tega.
"Tapi dia
seperti benar-benar ada. Tawanya, ucapannya dan semuanya masih kuingat di
kepalaku," sambung Ria.
Diana mengibaskan tangannya. "Elo harus lupain itu semua. Barangkali sosok
Roy sebenarnya cuma kekasih fantasi aja. Itu lho, tentu elo masih ingat waktu
kita kecil dulu punya teman fantasi yang seolah-olah ada menemani kita saat
sendirian. Kayaknya Si Roy makhluk semacam itu yang hadir karena tekanan
kesendirian elo, Ria," ujar Diana mencoba membagi pengetahuan yang ia
miliki.
Ria termangu. Mungkin dua sahabatnya benar. Dia harus melupakan Roy yang
sesungguhnya tidak pernah ada itu.
"Biar elo
nggak ngehayal lagi, nanti akan gue bantu deh nyari cowok buat pasangan elo.
Sebut aja, mau Peter, Gino atau Oding?"
"Win, elo tuh kalo nawarin orang seenaknya. Memangnya gampang. Belum tentu
dianya mau sama gue."
"Ya, namanya juga usaha. Asal jangan Delon aja. Soalnya gue juga
ngejar-ngejar dia."
Pintu kamar diketuk sebentar, lalu muncul Nenek membawa baki berisi dua gelas
jus segar untuk Winta dan Diana. Nenek juga menyodorkan faksimili.
"Dari Singapura," kata Nenek sebelum kemudian pergi meninggalkan
kamar.
Ria buru-buru mrmbaca kertas surat tersebut.
Dearest Ria,
Maaf, aku nggak bisa memenuhi janji mengantarmu ke pesta ulangtahun itu.
Kami sekeluarga harus segera pergi ke Berlin. Ada keluarga kami yang meninggal
di sana. Surat ini kutulis di pesawat dan kukirim saat transit di Singapura. O,
iya HP aku ilang kemarin lusa. Jadi nggak bisa telepon kamu dulu. Tapi waktu
aku coba hubungin HP kamu pake HP nyokap, kok mailbox mulu. Tetaplah
menungguku. Aku menyayangimu.
Yours,
Roy
Ria terbelalak mengetahui isi surat di tangannya. Dia
buru-buru menyodorkannya pada Winta dan Diana. Dua sahabat itu tercengang kaget
melebihi Ria. Jadi mana yang benar, Roy itu ada atau nggak?
"Elo nggak nyuruh sodara elo di Singapura ngirim surat palsu ini,
kan?" selidik Winta.
"Gue nggak punya teman ataupun saudara di sana." Ria menggeleng kuat.
Matanya menerawang ke langit-langit dengan bibir menyungging senyum.
Kali ini keyakinan Ria berubah lagi. Bukankah surat
itu sudah cukup membuktikan, Roy kekasihnya memang benar-benar ada, bukan
kekasih bayangan atau fantasi. Masih adakah yang meragukan hal itu? ©