DAMPAK TSUNAMI ACEH
Dalam tulisan kali ini saya akan menganalisis salah satu bencana
yang ada di Indonesia yang tercinta ini. Saya akan menganalisis tentang
tsunami. Bagaimana terjadinya, bagaimana menyikapi bencana dan penderitaan,
solusi menghindarinya dan bagaimana sikap anda jika mengenai bencana dan penderitaan
tersebut?
Tsunami adalah kata
berbahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan (tsu artinya lautan, nami berarti gelombang
ombak). Pengertian dari Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak raksasa yang
timbul karena adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi. Tsunami sangat
identik dengan gempa bumi yang terjadi di dasar laut, bukan di daratan.
Gelombang ombak yang ditimbulkan oleh gempa didasar laut memiliki kecepatan 600 mil per
jam (hampir 1.000 km per jam) atau
sama dengan kecepatan rata-rata pesawat udara. Gelombang ombak laut bisa
mencapai ketinggian 6 sampai 14 meter untuk ukuran rata-rata. Gelombang
tsunami bisa menghantam daratan selama 5 sampai 30 menit.Ketika gelombang
ombak yang besar datang, kita nyaris tidak sempat melarikan diri. Karena ombak
tersebut besar dan cepatnya, gelombang ombak ini dapat melintasi lautan luas.
Tentu kita tidak mudah lupa dengan apa yang terjadi di Aceh
26 Desember 2004. Bencana alam terdahsyat yang pernah
terjadi di Indonesia adalahbencana gempa bumi & tsunami. Bencana ini merupakan kematianterbesar sepanjang sejarah. Indonesia, Sri Lanka,
India, dan Thailand merupakan negara dengan jumlah kematian terbesar. Hal
ini tentu saja sangat berpengaruh pada perekonomian Negara dan
daerah khususnya Aceh yang terkena bencana yang terparah.
Ilmuwan menilai sumber gelombang mematikan itu jelas adalah
gempa bumi Sumatera-Andaman 9,2, yang merupakan salah satu yang paling kuat
dari yang pernah ada.
Menurut beberapa studi terbaru, justru patahan jauh lebih kecil yang mengirim tembok air setinggi 100 kaki meluncur ke provinsi Aceh. Jika benar, penemuan itu akan menjelaskan apa yang benar-benar melahirkan bencana tahun 2004. Gempa terjadi akibat dari patahnya rekahan sepanjang 1.600 kilometer di mana lempeng tektonik India bertabrakan di bawah lempeng Sunda. Rekahan diperkirakan telah tergelincir 20-25 meter dalam waktu hampir seketika.
Banda Aceh terletak dekat bagian dari rekahan yang tidak bergerak sama sekali, namun daerah itu yang paling parah. Bagaimana mungkin Aceh mengalami kerusakan yang sangat besar seperti itu? Para ilmuwan berpikir sekarang mereka tahu mengapa. Patahan yang lebih dekat ke pantai Sumatra yang diabaikan sebelumnya, pecah hampir pada waktu yang sama dibandingkan sepupunya yang jauh lebih besar.
Felix Waldhauser dari Columbia University dan tim peneliti menganalisis ribuan gempa susulan di wilayah tersebut sejak 2004. Epicenters dari gempa kecil berbaris dengan patahan yang tidak biasa menunjukkan hal itu dan bukan patahan utama yang telah aktif di daerah itu.
Patahan penting yang oleh tim disebut patahan splay (miring ) itu, mengiris plat Sunda jauh lebih dekat ke pantai barat Sumatra, dan dengan sudut yang lebih curam ke dasar laut daripada patahan utama.
Ini berarti bahwa setiap kali patahan melebarkan, hal itu mendorong dasar laut ke atas lebih keras, menyebabkan tsunami yang lebih besar.
"Pengamatan gempa bumi di sepanjang (patahan utama) tidak cukup untuk menghasilkan tsunami yang besar," kata Waldhauser. Ia menyajikan temuan tim pada pertemuan tahunan American Geophysical Union awal bulan ini.
Tim peneliti lain yang dipimpin oleh Satish Singh dari Institut de Physique du Globe de Paris di Prancis menunjukkan dalam model komputer, bahwa patahan miring hanya perlu bergeser 5 meter untuk menghasilkan tsunami besar-besaran yang menelan Banda Aceh, setara dengan gempa 7,8 atau 7,9 Magnitudo. "Kekhawatiran kami adalah bahwa peristiwa kecil dapat menghasilkan efek yang merusak seperti itu, dan itu tidak akan mendapat perhatian," kata Singh.
Gempa yang lebih kecil itu kemungkinannya akan berulang lebih sering daripada gempa bumi besar, setiap 100-200 tahun sekali.
Singh mengingatakan patahan miring serupa di lepas pantai Padang yang berpenduduk 750 ribu jiwa. Dia mengatakan patahan bisa terjadi dalam dekade berikutnya.
Menurut beberapa studi terbaru, justru patahan jauh lebih kecil yang mengirim tembok air setinggi 100 kaki meluncur ke provinsi Aceh. Jika benar, penemuan itu akan menjelaskan apa yang benar-benar melahirkan bencana tahun 2004. Gempa terjadi akibat dari patahnya rekahan sepanjang 1.600 kilometer di mana lempeng tektonik India bertabrakan di bawah lempeng Sunda. Rekahan diperkirakan telah tergelincir 20-25 meter dalam waktu hampir seketika.
Banda Aceh terletak dekat bagian dari rekahan yang tidak bergerak sama sekali, namun daerah itu yang paling parah. Bagaimana mungkin Aceh mengalami kerusakan yang sangat besar seperti itu? Para ilmuwan berpikir sekarang mereka tahu mengapa. Patahan yang lebih dekat ke pantai Sumatra yang diabaikan sebelumnya, pecah hampir pada waktu yang sama dibandingkan sepupunya yang jauh lebih besar.
Felix Waldhauser dari Columbia University dan tim peneliti menganalisis ribuan gempa susulan di wilayah tersebut sejak 2004. Epicenters dari gempa kecil berbaris dengan patahan yang tidak biasa menunjukkan hal itu dan bukan patahan utama yang telah aktif di daerah itu.
Patahan penting yang oleh tim disebut patahan splay (miring ) itu, mengiris plat Sunda jauh lebih dekat ke pantai barat Sumatra, dan dengan sudut yang lebih curam ke dasar laut daripada patahan utama.
Ini berarti bahwa setiap kali patahan melebarkan, hal itu mendorong dasar laut ke atas lebih keras, menyebabkan tsunami yang lebih besar.
"Pengamatan gempa bumi di sepanjang (patahan utama) tidak cukup untuk menghasilkan tsunami yang besar," kata Waldhauser. Ia menyajikan temuan tim pada pertemuan tahunan American Geophysical Union awal bulan ini.
Tim peneliti lain yang dipimpin oleh Satish Singh dari Institut de Physique du Globe de Paris di Prancis menunjukkan dalam model komputer, bahwa patahan miring hanya perlu bergeser 5 meter untuk menghasilkan tsunami besar-besaran yang menelan Banda Aceh, setara dengan gempa 7,8 atau 7,9 Magnitudo. "Kekhawatiran kami adalah bahwa peristiwa kecil dapat menghasilkan efek yang merusak seperti itu, dan itu tidak akan mendapat perhatian," kata Singh.
Gempa yang lebih kecil itu kemungkinannya akan berulang lebih sering daripada gempa bumi besar, setiap 100-200 tahun sekali.
Singh mengingatakan patahan miring serupa di lepas pantai Padang yang berpenduduk 750 ribu jiwa. Dia mengatakan patahan bisa terjadi dalam dekade berikutnya.
CARA MENGHADAPI TSUNAMI
A.
Persiapan Menghadapi Tsunami
1.Mengetahui pusat informasi
bencana, seperti Posko Bencana, Palang Merah Indonesia, Tim SAR. Kenali areal
rumah, sekolah, tempat kerja, atau tempat lain yang beresiko. Mengetahui
wilayah dataran tinggi dan dataran rendah yang beresiko terkena Tsunami.
2. Jika melakukan
perjalanan ke wilayah rawan Tsunami, kenali hotel, motel, dan carilah pusat
pengungsian. Adalah penting mengetahui rute jalan keluar yang ditunjuk setelah
peringatan dikeluarkan.
3.Siapkan kotak
Persediaan Pengungsian dalam suatu tempat yang mudah dibawa (ransel punggung),
di dekat pintu.
4.Siapkan peersediaan
makanan dan air minum untuk pengungsian.
5.Siapkan selalu
peralatan P3K lengkap.
6.Membawa barang
secukupnya saja untuk keperluan pengungsian.
7.Segera mengungsi
setelah ada pemberitahuan dari pihak yang berwenang atas penyebaran informasi
tentang tsunami.
8.Jika hanya ada sedikit
waktu sebelum datang tsunami,segera mencari pintu dan mencari jalan keluar dari
rumah atau gedung dengan segera.
9.Carilah tempat yang
tinggi dan aman dari gelombang tsunami,atau mengikuti rute dan tempat yang suah
ditetapkan oleh pihak yang berwenang.
10. Utamakan
keselamatan terlebih dahulu, jika terjadi kerusakan pada tempat Anda
berada,bila ingin menyelamatkan harta benda carilah yang mudah dan ringan
dibawa.
11. Pastikan
tidak ada anggota keluarga yang tertinggal pada saat pergi ke tempat evakuasi.
Jika bisa ajaklah tetangga dekat Anda untuk pergi bersama-sama.
12. Jika
tsunami terjadi pada saat Anda sedang menyetir kendaraan, cepat keluar dan cari
tempat yang tinggi dan aman.
B. Setelah Terjadi
Tsunami
1. Periksa kesediaan makanan. Makanan apapun
yang terkena air mungkin sudah tercemar dan harus dibuang.
2. Memberikan bantuan kepada korban luka-luka.
Berikan bantuan P3K dan panggil bantuan. Jangan pindahkan orang yang terluka,
kecuali yang luka serius.
3. Segera membangun tenda pengungsian apabila
keadaan untuk kembali ke rumah tidak memungkinkan.
4. Pastikan keadaan sudah aman dan tidak
terjadi tsunami susulan sebelum kembali ke rumah.Bila keadaan rumah tidak
memungkinkan untuk ditempati carilah tempat tinggal yang bisa ditempati atau
kembali ke tempat pengungsian.
TAHAP PENCEGAHAN,REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI
Tahap pencegahan
Tsunami merupakan
fenomena alam yang biasa terjadi namun hampir sedikit sekali dapat diprediksi
terjadinya tsunami. Oleh karena itu ketika tsunami terjadi akan banyak
menimbulkan kerusakan dan korban jiwa. Namun demikian untuk menghindari bahaya
tsunami dapat dilakukan dengan memberikan peringatan sedini mungkin pada
orang-orang yang tinggal dan berada di sekitar pantai. Di beberapa pantai yang
kerap terjadinya tsunami seperti di pantai-pantai Jepang dan Amerika telah
dipasangi papan peringatan tentang terjadinya potensi tsunami. Awas Tsunami!.
Di beberapa tempat malah dipasang system alarm yang menghubungkan peralatan
deteksi tsunami dari instansi berwenang memberikan peringatan. Di beberapa
pantai di Jepang malah telah dibuat dinding beton penghalau agar dapat
mengurangi laju tsunami, juga dibangun tempat tempat pengungsian . Dengan
cara-cara ini potensi kerusakan yang akan ditimbulkan oleh tsunami dapat
dikurangi.
Cara lain adalah dengan menjaga kelestarian dan keutuhan pepohonan yang ada sekitar pantai. Bila lahan sekitar pantai sudah gundul atau berkurangnya pepohonan maka perlu adanya upaya reboisasi. Reboisasi dilakukan sepanjang garis pantai. Makin banyak pohon yang ada dan ditanam di sekitar pantai membuat laju tsunami makin berkurang dan terhambat sehingga mengurangi kerusakan yang ditimbulkan tsunami.
Cara lain adalah dengan menjaga kelestarian dan keutuhan pepohonan yang ada sekitar pantai. Bila lahan sekitar pantai sudah gundul atau berkurangnya pepohonan maka perlu adanya upaya reboisasi. Reboisasi dilakukan sepanjang garis pantai. Makin banyak pohon yang ada dan ditanam di sekitar pantai membuat laju tsunami makin berkurang dan terhambat sehingga mengurangi kerusakan yang ditimbulkan tsunami.
Tahap Rehabilitasi dan
Rekonstruksi
Kebijakan
rehabilitasi dan rekonstruksi disusun untuk memulihkan dan membangun kembali
kehidupan masyarakat pasca bencana menjadi lebih baik. Untuk itu, pengkajian
Kebutuhan Pasca Bencana dilakukan dengan menggunakan Kombinasi Penilaian
Perkiraan Kerusakan dan Kerugian (Damage and Loss Assesment-DALA) dan
Pengkajian Kebutuhan Pemulihan Pembangunan Manusia / Human Development
Needs Assessment (HRNA).
Strategi
pemulihan pasca bencana Provinsi DIY meliputi dua tahapan, yaitu tahap
rehabilitasi dan tahap rekonstruksi. Tahap Rehabilitasi bersifat jangka pendek,
sebagai respon atas berbagai isu yang bersifat mendesak dan membutuhkan
penanganan yang segera dan bertujuan untuk memulihkan standar pelayanan minimum
pada sektor perumahan, sektor prasarana, sektor sosial, sektor ekonomi
produksi, serta sektor lainnya (lintas sektor) yang mengalami kerusakan dan
kerugian akibat dampak bencana. Tahap Rekonstruksi lebih bersifat jangka
panjang untuk memulihkan sistem secara keseluruhan serta mengintegrasikan
berbagai program pembangunan ke dalam pendekatan pembangunan daerah. Selain
itu, MDMC(Muhammadiyah Disaster Management Centre) membangun program
rehabilitasi pasca bencana untuk mengkoordinasikan dan melembagakan inisiatif
berbagai elemen Muhammadiyah yang telah memiliki program tersebut sebelumnya.
Untuk skala nasional, Muhammadiyah telah menyelesaikan program rehabilitasi
pasca Tsunami, pasca Gempa Bumi,Secara keseluruhan kebijakan yang diambil BPBD
dalam membangun sistem penanggulangan bencana adalah sebagai berikut:
1. Penguatan peraturan perundangan dan
kapasitas kelembagaan
2. Perencanaan penanggulangan bencana yang
terpadu
3. Penelitian, pendidikan dan pelatihan
4. Peningkatan kapasitas dan partisipasi
masyarakat dan para pemangku kepentingan
lainnya dalam PRB
5. Pencegahan dan mitigasi bencana
6. Peringatan dini
7. Kesiapsiagaan
8. Tanggap darurat
9. Rehabilitasi dan Rekonstruksi
SIKAP
KITA MENGENAI BENCANA
Bencana alam sebagai peristiwa
atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam,manusia, dan atau oleh
keduanya dan menyebabkan korban manusia, penderitaan, kerugian,kerusakan sarana
dan prasarana lingkungan dan ekosistemnya serta menimbulkan gangguanterhadap
tata kehidupan dan penghidupan masyarakat. Penanggulangan Bencana Alam
yangdilakukan saat ini masih menyimpan beberapa masalah antara lain sebagai
berikut:
• Kelambatan dalam mengantisipasi tanggap darurat bencana;
• Kurangnya koordinasi dalam perencanaan dan pelaksanaan dalam pemulihan pasca bencana;
• Kerangka kerja kelembagaan lebih fokus pada pelaksanaan tanggap darurat bencana disbanding pemulihan pasca bencana serta pendanaan yang lebih ditekankan pada tanggap daruratbencana.
• Pemahaman atas pengurangan resiko bencana juga masih terlihat jelas akan kurangnya pemahaman dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana dan resiko bencana.
• Lemahnya kinerja kelembagaan dalam pelaksanaan pengurangan resiko bencana, kurangnya perencanaan dan pelaksanaan dalam pengurangan resiko bencana serta kurang terpadunya rencana penataan ruang dengan pengurangan resiko bencana.
• Ketidak pahaman masyarakat dalam memberikan bantuan terhadap para korban, mengakibatkan masyarakat yang menjadi korban bencana alam sangat bergantung pada upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah.
• Belum terpenuhinya pelayanan standar minimum yang disyaratkan oleh piagam kemanusia terkait dengan pemberian bantuan terhadap korban bencana, sehingga sering ditemui korban bencana terkesan tidak dipenuhi akan haknya terhadap kehidupan yang bermartabat.
DAFTAR PUSTAKA :
http://lindamariani.blogspot.com/2013/12/penanggulangan-bencana-tsunami.html
http://id.scribd.com/doc/75976864/Analisis-bencana-alam-tsunami-di-aceh
http://dinamika50.blogspot.com/2009/12/analisis-tsunami-aceh.html
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/04/tugas-5-ilmu-budaya-dasar-ibd-manusia-dan-penderitaan/